INDIGO Bab 1: Segitiga Bermuda

INDIGO
Bab 1: Segitiga Bermuda

 Hembusan angin membelai wajah dan rambutku, tangan ku terbentang lebar menerima pelukan lembut dan sejuk dari angin sore yang menerpa tubuhku, mataku pun ikut terpejam menikmati angin melalui balkon kamarku.
"Geaa.. Citra mencarimu, cepat turun!" panggil Mama ku.
Segera Aku keluar dari kamar, menuruni anak tangga tidak bisa di bilang pelan malah terkesan sedikit berlari.
"Hai.. Citra, ada apa? tumben sore-sore begini datang ke sini? apa ada yang penting?" tanyaku bertubi-tubi. Orang yang ku tanya hanya menatapku bosan.
"Ya ampun Gea.. kalok mau nanya satu- satu dong, aku jadi bingung mau menjawab yang mana dulu" ucap Citra sambil cemberut.
"Yang mana aja boleh" jawabku singkat.
Kami berdua duduk di ruang tamu, Citra masih memandangku kesal
"Huuuhh..." Citra menghela nafasnya pasrah.
"Gea, kau sudah mendengar kabar tentang perkemahan minggu ini?"
"Sudah dan Aku tak tertarik, memangnya kenapa?" tanyaku, ku lihat Citra kembali menghela nafasnya berat.
 "Sebenarnya kau kenapa?" tanyaku lagi yang mulai bosan melihat Dia terus menghela nafas.
"Huuhh..Gea kenapa kau tidak berminat dengan perkemahan tahun ini?"
"Aku hanya tak tertarik saja" jawabku singkat.
Citra kembali menghela nafasnya berat.
"Berhenti berekspresi seperti itu Citra! Apa mau mu menanyakan hal itu sebenarnya?" ucapku sedikit keras. Oke sekarang Aku sudah benar-besar bosan.
"Gea.. ikutlah perkemahan minggu ini" kata citra memohon pada ku.
"Tidak"jawabku singkat. Sedangkan Citra terus memasang ekspresi memohon.
"Ku.. mohon  Gea.. kalau Kau ikut, maka aku akan sangat berterima kasih padamu"
Aku diam tak memjawab. Ku lihat wajah Citra memohon padaku.
"Tahun ini Aku diberi tugas di bagian DU, sedangkan aku tak berpengalaman di bagian itu. Makanya aku memohon padamu Gea, karena Kau sudah sering, ralal selalu di bagian DU jika ada kegiatan perkemahan. Jadi kumohon bantu sahabatmu ini Gea.."
Mendengar perkataan Citra  Aku jadi ingat, setiap ada acara perkemahan Aku selalu mendapatkan tugas DU, entah atas usulan seluruh panitia, atau keinginan ku sendiri, Aku memang menyukai tugas itu.
Tapi tahun ini aku sama sekali tidak berminat untuk ikut serta dalam kepanitiaan perkemahan. Citra orang kelima yang memujukku hari ini, dan alasan Citra adalah alasan terlogis dari empat orang yang memujukku hari ini. Satu dia antara mereka mengatakan kalau mereka akan kelaparan karena bukan aku yang memasak. Sungguh itu hanya alasan saja. Mendengar itu membuatku semakin tak ingin mengikuti perkemahan ini.
"Entahlah.. Citra, akan ku pertimbakan"
Mendengar ucapanku, wajah Citra berseri-seri senang, sedangkan aku memasang senyuman palsu, sudah lima kali  Aku berkata seperti itu.
"Oke Gea.. Aku mengharapkan jawaban baik dari mu, Aku pulang dulu, selamat malam" ucap Citra dan pergi meninggalkan rumah ku, ralat orang tuaku.

 Sudah tiga hari berlalu, Citra, Lusi, David, Rai dan Alfin terus menagih keputusan ku. Mereka berlima terus memujukku untuk ikut perkemahan dan hari ini adalah hari terakhir karena sore ini akan di laksanakannya perkemahan itu.
"Huuhh.."aku menghela nafas berat saat berhasil melarikan diri dari  lima sahabat menyebalkan. Aku tak sadar jika saat ini aku sedang berada di koridor ruang guru. Ku arahkan pandanganku ke kiri dan kanan, kosong atau bisa di bilang sunyi. Baru saja Aku mau meninggalkan koridor itu, seorang guru memanggil ku.
"Gea, bisa bicara sebentar?" tanya Bu May pada ku.
"Ya, Bu. Mau bicara apa?" responku sopan.
"Begini.. kamu sudah tahukan kalau hari ini ada perkemahan?"
"Iya Bu.."
"Nah.. Ibu minta kamu ikut kepanitiaan perkemahan untuk... membantu panitia yang lain"
"Hem.. memangnya kepanitiaan perkemahan kurang ya Bu?" tanyaku bingung.
"Bukan kurang hanya saja.. kebanyakan dari panitia adalah anggota baru, dan yang seniornya banyak yang tidak ikut, jadi karena kamu senior Ibu membutuhkan kamu untuk memantau mereka."
Perkataan Bu May terdengar seperti merayuku untuk ikut perkemahan ini, ingin aku menolak, tapi.. Ibu May adalah wali kelasku, yang sudah aku anggap sebagai Ibuku sendiri. Sanggupkah aku menolaknya. Jawabannya adalah TIDAK.
"Em... baiklah Bu saya akan ikut" kataku pasrah.
Bu May tersenyum danang mendengar perkataan ku.
"Baiklah Gea, kamu boleh datang agak terlambat sore ini. Karena Ibu yakin kamu butuh waktu untuk mengemas ransel. Oke Gea sampai bertemu di perkemahan sore ini" kata Bu May yang kemudian berlalu meninggalkan ku.

 Tepat pada pukul 02:00 siang. Aku telah sampai di rumah dan kini Aku tengah membaringkan tubuhku di kasur umpuk di dalam kamar ku. "huuhh..." entah sudah berapa kali aku menghela nafas hari ini. Kulirik ransel hitam milikku yang biasa ku gunakan untuk membawa perlengkapan kemah. Dengan malas aku bangun dan mulai mengemasi perlengkapan kemah hari ini. Mulai dari baju ganti, jaket, tali, kotak P3K, buku catatan kecil berserta pulpen kesayangan ku dan beberapa perlengkapan yang lainnya. Kalau kalian bertanya untuk apa buku itu, jawabannya adalah untuk menulis dosa-dosa perserta perkemahan. Ini sudah menjadi kebiasaanku, agar nanti saat puncak perkemahan dengan mudah Para panitia yang lain untuk mempertimbangkan meraka.
 Setelah beres mengemas, aku langsung membenah diriku sendiri, masih dengan malas-malasan Aku turun dari lantai dua kamarku menuju dapur.
"Ma.. Gea hari ini pergi kemah di sekolah" pamitku kepada Mama ku
"Hem.. tapi katanya gak mau ikut kemah?"
"Terpaksa ma.."
"Dengar, jalankan semua dengan sepenuh hati dan yakinlah semua akan menyenangkan bahkan lebih berkesan dari perkemahanmu sebelumnya" nasehat Mama padaku.
"Semoga saja ma.." responku lesu.
"Hey.. semangatlah.. ini bekal makan malam."
"Terimakasih ma.."
Setelah menerima bekal makan malam dari Mama, Aku langsung melangkahkan kakiku menuju pintu rumah dan berangkat ke sekolah lagi.
 Ku lihat di depan gerbang sekolah sudah ada dua orang siswi yang mengunakan seragam yang sama denganku, kini tengah asik berselfi.
"Eh.. kak Gea.. tumben baru datang kak?" tanya salah satu dari mereka.
"Kak nanti pinjam sepedanya ya.. untuk patroli" ucap yang satunya lagi.
"Hem.. ya.. kakak dapat keringanan dari Kak May dan untuk sepeda ini, sebaiknya kakak tinggalkan saja di sini"
"Wah.. kakak memang the best deh"
 Aku meninggalkan sepedaku pada dua bocah di depan gerbang. Tak masalah bagi ku, karena mereka ralat hampir semua anggota kepanitiaan di sini selalu menaiki sepedaku itu,sampai-sampai aku sendiri frustasi mencari keberadaan sepedaku saat ingin pulang besok.
 Mataku langsung tertuju pada prakiraan sepeda motor yang kini berubah fungsi menjadi tempat perkumpulan para perserta perkemahan dengan seragam coklat, sama seperti panitia yang notabenetnya adalah senior mereka, yang membedakan mereka adalah KKB (Kacu, Tali Komando, Baret) berserta lambang-lambang keahlian yang melekat pada seragam masing-masing senior dan yang lebih penting dari itu semua adalah sikap. Mereka semua berdiri dengan tegak bahkan wajah mereka semua tegang. Tentu saja jika di depan mereka sedang berdiri tiga senior killer, siapa lagi kalau bukan Radit, Anya, dan Rai. Mereka temanku dan salah satunya adalah sahabatku.
Dapat ku lihat perubahan ekspresi wajah perserta kemah saat melihatku mendekati mereka, ada yang berekspresi lega, ada yang memohon diselamatkan dan entah apa lagi dan aku hanya menanggapi mereka dengan sebuah senyuman kecil.
"Sore semuanya!" sapaku pada mereka
"SOREEE.. KAK..." jawab meraka
"Anya, sudah diperiksa perlengkapan?" tanyaku
"Baru mau mulai kak" jawab Anya
Aku tersenyu penuh arti.
"Baiklah, mari kita mulai" ucapku dengan ekspresi menyeringgai penuh arti.
Mulailah ku sebut satu persatu perlengkapan mereka dan tak mengizinkan  merek memasukkannya kembali kedalam tas mereka dan hasilnya semua barang-barang mereka berserakan.
"Dalam hitungan ke sepuluh semua sudah rapi kembali, SATU!" Ucapku tegas dan mereka semua langsung meraup barang-barang mereka secara asal. Ini dikarenakan jika hitungan ku selesai dan mereka belum selesai mengemas maka akan ada hukuman untuk mereka. Namun hukuman yang ku katakan untuk merka hanya sebatas ucapan ku saja. Aku tak pernah memberi hukuman jika ada hanya pernah menghukum mereka untuk mengumpulkan botol air mineral dan memasukkannya kedalam tempatnya. Hukuman itu hanya ketika ada yang telat hadir.
"SEPULUH. Semua tangan angkat keatas!" Ucapku tegas selesai menghitung.
Dapat ku lihat wajah mereka berubah menjadi takut, takut karena baru melihatku seperti ini dan takut atas hukuman yang akan ku berikan. Sedangkan Radit, Rai dan Anya hanya tertawa melihat ku menakuti mereka.
Beberapa dari mereka ada yang sudah memasukan kembali barang-barang mereka kedalam tas dan ada juga yang hanya setengah.
"Yang tidak mengemas tepat waktu harus..."
Ku gantungkan ucapanku dan hal itu membuat wajah mereka tegang.
"Lebih cepat lagi" kataku dengan menahan tawa dan ketiga orang yang harusnya mengecek perlengkapan mereka, kini tertawa keras.
"Untuk kalian bertiga, jangan terlalu keras, tegas boleh bukan berarti kalian membully paham?" Kataku memandangi mereka dengan tatapan tajam
"Siap.. kak.." ucap Radit dan Anya.
"Santai aja Gea, tapi apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Rai
"Yang jelas bukan karena rayuan kalian, udahlah.. aku mau laporan dulu sama Kak May." Jawabku dan pergi meninggalkan mereka semua.

 Tak terasa sekarang hampir tengah malam, sekarang masih diadakan acara pensi atau tepatnya adu yelyel antara senior putra dan putri.
Aku sendiri kini sedang membantu Citra menyiapkan minuman dan cemilan untuk rapat penetapan pos ditengah malam nanti.
"Citra mana anggota DU yang lain?" tanyaku.
"Tuuu... pensi" tunjuk Citra ke arah kelompok senior yang masih adu yelyel.
"Huuhh.. ternyata capek juga jadi petugas DU, Gea kau ngak capek menyiapkan ini semua sendiri, kan biasanya kalau sudah acara pensi semua anggota kan pada nonton pensi atau ikut serta" ucap Citra mengeluh panjang.
"Tidak" responku ketus.
"Oh.. ayolah Gea, bisakah kau merespon ucapanku dengan baik kali INI saja."kata Citra dengan memberikan penekanan pada kata 'ini'.
"Oh.. ayolah Citra, bisakah kau tidak mengeluh kali INI saja" kataku membalas ucapanyan denga mengikuti nada suaranya.
Citra sendiri cemberut sebal dan aku hanya tersenyum geli.
 Tepat pada pukul 10:00 malam, semua perserta kemah kembali pada tenda kelompoknya masing-masing  untuk tidur atau beristirahat sejenak dan para panitia kini tengah berkumpul di dekat tenda DU. Mengap mereka di sini, karena mereka akan memulai rapat dan dengan mudah mereka mengambil minuman dan cemilan yang telah di sediakan dengan yang mereka sendiri. Tentu saja itu akan meringankan kerja petugas DU.

 Kedua jarum jam sudah bertemu pada angka 12, menandakan para perserta harus bangun dan kembali dikumpulkan di lapangan. Dengan sedikit arahan seluruh perserta kini berjalan menuju pos pelepasan yang di pegang oleh aku dan Kak Karin. Dia adalah seniorku yang baru lulus tahun kemarin.
Di pos pelepasan ini kami sedikit bermain game dan yang bisa menjawab tantangan dari game akan maju ke pos selanjutnya.
 Di pertengahan game, mataku melihat ada yang janggal diantara perserta kemah, mataku terbelalak lebar atas pemandangan yang ada di depan mataku. Segera aku berjalan mendekati perserta kemah yang kini melamun dengan tatapan kosong pada barisan duduk paling belakang.
Ketepuk bahunya sebanyak tiga kali dan Dia terkejut sebagai respon kalau Dia sadar dari lamunanya.
"Jangan melamun, pindah ke depan!" Kataku padanya.
Kak Karin yang tadinya sedang melaksanakan gamesnya terhenti dan menatapku.
"Apa semuanya baik-baik saja?"
tanya Kak Karin padaku
"Hem.. aman..." ucapku meyakinkan Kak Karin.
Aku tak lagi berada di hadapan perserta kemah bersama Kak Karin tapi berada di belakang mereka. Mengawasi yang harus diawasi.
"Mau bermain terang-terangan denganku itu sebuah kesalahan besar" ucapku pelan.
"Emm.. maaf kak, tadi kakak bilang apa ya?" tanya seseorang yang berada si dekatku.
"Aa.. tidak ada" dan Dia hanya mengangguk pelan sebadai tanda mengerti.
Hidungku kini mencium aroma melati. Aku pun tersenyum sinis.

 Satu jam telah berlalu, para perserta kemah sudah masuk kedalam pos yang mereka tuju, kini pos pelepasan hanya tinggal Aku dan Kak Karin, kami duduk beristirahat sebentar sebelum kami mengunjungi pos-pos lain.
"Gea.. Kak Karin sudah selesai" ucap seseorang di belang kami. Akupun melihat ke belakang begitu juga Kak Karin dan ternyata itu adalah Dafit.
"Iya nih... Dafit, kamu sendiri ngapin di sini? bukanya kamu dan Alfian dapat pos tiga?" tanya Kak Karin.
"Hehehe... cuma mau jalan-jalan aja kak, sekalian juga ada perlu sama Gea" jawab Dafit sambil nyengir kuda
Kak Karin ber Oo ria mendengar jawaban dari Dafit sedangkan aku menatap bingung.
"Emm.. Kak Geanya Dafit pinjam ya?"
"Emang kalian mau kemana?"
"Mau ngobrol sambil keliling pos"
"Oo.. kakak ikut sekalian ya"
"Oke"
 Kini kak Karin berjalan di depan aku dan Dafit, dari kejauhan dapat ku lihat Riski dan Ari sedang santai sedangkan di hadapannya perserta kemah tengah menatap mereka takut.
"Gea, Kak Gilang dan Rai dapat tugas bersama kali ini." kata Dafit berbisik padaku.
"Terus kenapa?"responku ketus.
"Kau seperti tidak tau kelakuan mereka berdua saja, belum lagi mereka mengambil posisi di depan kamar mandi siswi."
"Emangnya kenapa kalo di depan kamar mandi siswi? kan biasanya juga di situ?"
"Enggak masalah kalok bukan mereka berdua yang ada disana. Jika mereka berdua di tempat seperti itu maka, malam ini Kau, Aku dan Lusi akan bertualang karena kejahilan mereka berdua."
Aku mencerna semua yang dikatakan Dafit  padaku, kuhentikan langkah kakiku saat aku tau maksud dari perkataan Dafit.
"Kak Geaa..." panggil seseorang di belakangku.
Akupun membalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang memanggilku.
"Kak Gea tega banget sih... ninggalin Aku di sana, Anya kan takut kak" kata Anya sambil menunjuk ke arah aula lama.
"Haa.. kapan kakak ngajak kamu ke sana? Kakak aja baru ketemu kamu sekarang, dari tadi kakak sama kak Karin dan kak Dafit." kataku bingung.
"Nah.. Gea, permainan baru dimulai" ucap Dafit memandang Anya intes.
"Jadi kalau kakak dari tadi disini terus yang sama Aku tadi siapa?" Tanya Anya takut.
"Udah sekarang kamu pergi ke kantor dan istirahat di sana. Satuhal lagi kalok di jalan ada yang orang yang mengajakmu pergi atau memanggil namamu abaikan aja." titahku pada Anya.
Anya pun menganggukan kepalanya dan pergi menuju kantor.
"Kau lihatkan ulah mereka, oh ya ada yang hampir lupa, tadi di pos ku, tidak ada yang datang satu orangpun, mereka hanya melewati kami aja dan saat Aku dan Alfin memanggil mereka, mereka lari ketakutan. Saat aku dan Alfin memeriksa sekeliling pos kami Aku menemukan bunga melur, langsung saja bunga itu ku hancurkan dan barulah ada yang datang ke pos kami. Apa ini ulah mu Gea? karena yang suka bermain bunga seperti itukan cuma kau?" Kata Dafit memandangiku dengan tatapan curiga.
"Tidak, untuk kali ini bukan aku"
Dafit menatapku tak percaya.
"Enn... Dafit, Gea, Kakak sampai di sini aja, kalau kalian mau melanjutkan ngak papa kok..."
"Oh.. yaudah, kami deluan ya Kak" kataku dan meninggalkan Kak Karin di pos satu.
"Gea.. kau serius itu bukan ulahmu, Kau tak lagi membobongiku kan?"tanya Dafit masih tak percaya.
"Tidak!" jawabku singkat
"Sekarang Lusi dan Citra di mana?" lanjutku bertanya pada orang yang masih menatapku tak percaya.
"Mereka ada di pos empat" jawab Dafit dengan nada pasrah.
Tampa mengatakan apapun lagi ku langkah kakiku menuju pos empat, diikuti Dafit yang berusanya menyamakan langkah kakiku den kakinya.
"Hey... Gea" panggil Lusi sambil melambaikan tangannya.
Ku lihat Citra sedang mengarahkan seorang perserta di depannya tak lama dan perserta itu pun pergi meninggalkan kami.
"Gea, Kau apakan pos Dafit, semua perserta mengira ini pos tiga tau!" ucap Citra kesal.
"Bukan dia pelakunya" kata Dafit memadamkan kekesalan Dafit.
"jadi-"
"Sudah. ada yang lebih penting, tadi Anya di bawa sama penggemar berat mu, apa kau berjumpa dengannya?" tanya Lusi memotong perkataan Citra, sedangkan Citra cemberut sebal.
"Sudah, aku menyuruhnya untuk istirahat di kantor dan... jangan bilang kalo mahluk itu penggemarku karena Aku tak merasa memili penggemar bernama mahluk halus." kataku kesal.
"Hehe.. iya.. iya.. sekarang kita jumpai mahluk yang tak halus sekarang?" kata Lusi sedikit terkikik pelan.
"Est.. tunggu dulu, kalo kalian bertiga pergi aku di sini sama siapa?" kata Citra yang mengkhawatirkan dirinya.
"Em.. benar, kita ngak mungkin ninggalin Citra sendiri di sini" kata Dafit membenarkan ucapan Citra.
Aku berfikir sejenak, kira-kira siapa yang bisa menemani Citra di sini, tiba-tiba lampu di atas kepalaku menyala terang. Oke sedikit berlebihan, sebenarnya Aku melihat Dandi tengah melintas di depanku.
"Dandi..! kemari..!" teriakku memanggilnya.
"Ada apa kak?" tanya Dandi ketika sudah didekat ku atau lebih tepatnya didekat kami.
"Apa kau ada tugas?" tanyaku.
"Tidak kak"
"Oke.. kalau begitu kau temani, Citra di sini"
Aku langsung pergi tampa mendengar jawaban dari orang yang ku mintai tolong.
Lusi dan Dafit sepertinya mengikutiku dari belakang.
 Tak butuh waktu lama, kami bertiga telah sampai di pos lima. Dapat ku lihat dua orang yang kami cari-cari sedang tertawa lepas. Kami tidak langsung menemui mereka, karena berniat menguping sebentar.
"hahaha... Kau memang pintar Rai, kenapa Aku ngak kepikiran ya..."
"Kakak kemana aja? baru sadar kalo Aku pintar."
"Iya..iya.. dari mana Kau dapatkan permainan ini Rai?"
"Suuttt... kecilkan suaramu kak Gilang, nanti kalau ada yang dengar bagai mana?"
"Kau tenang saja, kita hanya berdua di sini, sekarang Kau katakan padaku dari mana kau dapatkan permainan ini?"
"Aku mendapatkannya dari catatan Gea, kalau tidak salah nama permainan ini adalah.. Segitiga Bermuda"
 Mendengar pembicaraan mereka Aku sedikit terkejut, memang benar Aku sendiri yang menciptakan permainan konyol yang di katakan Rai. Tapi dari mana  Dia mendapatkan catatanku. Aku mengingat sesuatu, langsung saja Aku periksa kantung seragamku dan hasilnya NIHIL. Aku mencoba mengingat-ingat kapan Rai mengambil catatanku, ingatanku melayang pada saat aku berada di parkiran sekolah sore tadi. Sial, Dia mengambilnya di saat aku di sana.
Aku tak bisa lagi menahan diri untuk berteriak.
"Kak Gilang.... Rai...." jeritku geram pada orang yang ada dihadapanku. Keduanya menoleh kebelakang dan ekspresi mereka berdua pun berubah menjadi takut.
"Sabar... Gea... sabar..." kata Lisa dan Dafit menenangkanku yang tengah menahan marah.
"Ge-Ge-Gea.." ucap keduanya dengan gagapnya.
Kudekati mereka dan sekarang aku yang ada di hadapan mereka.
Dengan senyuman menyeringgai dan sebelah alis terangkat tinnggi sedangkan mereka sepertinya sulit untuk bernafas.
"Kenapa kalian berdua jadi gagap?" ucapku dengan nada yang dibuat setenang mungkin. sedangkan orang yang ku ajak bicara hanya menggelengkan kepala.
Dengan pelan ku tarik buku catatanku yang ada di genggaman Rai.
"Permainan yang bagus, tapi sayang harus berakhir sekarang, apa kalian mengerti?" ucapku mengecilkan suaraku.
"Ta-tapi.. kami lagi bertugas." Kata Kak Gilang dengan nada suara yang dipaksakan keluar.
"Ouh.. Gea bisa menggantikan tugas kalian.. gimana setuju" ucapku dan keduanya hanya mengangukan kepala.
"Jadi bisa dimulai dari sekarang, titik pertama di halaman depan kantor, titik kedua di pos tiga dan titik ketiga di aula lama"
"Da-dari mana kau tau Gea?" tanya Rai yang bingung dengan perkataanku.
"Mudah saja untuk mengetahui permainan kalian yang tidak begitu rapi" jawabku santai.
Tampa banyak bertanya lagi mereka berdua langsung pergi. Belum jauh keduanya pergi, aku mendengar suara tawa berasal dari Lusi dan Dafit.
"Hahaha... kau menyeramkan Gea" kata Dafit yang masih tertawa.
"Benar,aku sudah lama tidak melihat kau semarah ini, pasti mereka berdua akan kesulitan melepaskan permainan itu" kata Lisa menebak.
"Biarkan saja, segitiga bermuda itu akan lepas jika dilepas secara bersamaan, seperti yang kita mainkan di malam tahun baru" jelasku.
Hahahahahaha...
Kami pun tertawa bersama sambil membayankan kesulitan yang akan dialami Kak Gilang dan Rai.

 Malam ini sungguh malam yang panjang, Kak Gilang dan Rai ternyata bisa melepaskan permainan itu, entah siapa yang membantu mereka berdua.
Puncak dari perkemahan ini berjalan dengan aman. Namun seperti yang sudah ku katakan kalau aku akan frustrasi mencari sepedaku sendiri. Huuhh... menyebalkan.
 Oke sampai si sini ceritaku. Akan ku bagi ceritaku di lain waktu.
Aku Gea Naisya, hanya seorang gadis biasa yang memiliki keunikan seperti kelima sahabatku.

Sampai jumpa...

Comments